Tips Menentukan Jenis Kulit

Mengetahui jenis kulit merupakan hal penting untuk menentukan perawatan yang tepat, pasalnya jenis kulit tiap orang berbeda-beda. Kulit kita juga seringkali dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan, seperti udara yang kita hirup, sinar matahari dan air yang setiap hari kita pakai untuk mandi. Berikut kami akan berikan beberapa informasi untuk menentukan jenis kulit anda, sehingga dapat membantu anda dalam memilih produk perawatan yang lebih sesuai.

- Kulit Normal
Jenis kulit ini adalah yang paling diinginkan setiap orang. Kulit normal ditandai dengan permukaan yang lembut, sintal dan dengan ukuran pori-pori kecil. Jenis kulit normal biasanya memiliki elastisitas yang bagus, lembut dan padat saat disentuh.

- Kulit Berminyak
Kebanyakan remaja yang melalui perubahan hormonal biasanya mengalami masa-masa kulit berminyak ini. Biasanya jenis ini terlihat berkilat dan berlapis tebal, dengan pori-pori yang besar dan terlihat jelas. Sewaktu minyak keluar dengan berlebih, akan lebih mudah timbul jerawat, blackheads, whiteheads dan yang lainnya.

- Kulit Kering
Jika kulit anda terasa ketat di wajah, anda kemungkinan besar memiliki jenis kulit kering. Akan tetapi, jika biasanya kulit anda normal, perubahan jadi kering ini dapat disebabkan karena kurang minum air, musim panas atau udara dingin atau hal-hal yang berhubungan dengan faktor lingkungan. Jika anda berganti sabun, itu juga bisa sebagai faktor lain. Sabun, pada umumnya mudah membuat kulit kering.

- Kulit Kombinasi
Kulit kombinasi biasanya terdapat pada bagian berbeda. Satu bagian berminyak, bagian lain kering. Yang biasa disebut 'T-zone' mengacu pada jenis kulit kombinasi dimana bagian dahi, hidung dan dagu yang berminyak, sedang bagian pipi dan area sekitar mata merupakan bagian yang biasanya kering.

- Kulit Sensitif
Orang dengan kulit sensitif pasti mengalami banyak masalah dengan faktor lingkungan daripada orang kebanyakan. Kulit mereka akan lebih mudah terbakar sinar matahari, sensitif dengan kosmetik dan mungkin juga terasa terbakar atau pedih saat terkena angin, sinar matahari dan pergantian musim yang ekstrim.
Dari semua ciri-ciri yang telah disuguhkan diatas, anda dapat menilai apa jenis kulit anda dari tanda-tanda yang telah disebutkan. Semoga dengan mengetahui jenis kulit anda, akan membantu dalam memilih produk perawatan kulit yang sesuai

The High Maintenance Baby

Kehadiran keponakan baru di rumah, mau nggak mau membuat saya belajar banyak hal baru dalam hidup. Mulai dari yang bersifat teknis seperti cara mengganti popok, membuat susu dengan takaran dan temperatur tertentu, membedakan jenis-jenis tangis bayi –lapar-haus-ngompol-nggak enak badan—cara menggendong yang baik dan benar tanpa khawatir kalau tulang-tulang mudanya akan terkilir, memandikan bayi tanpa membuat dia kelelep, dan sebagainya. Termasuk mendapat knowledge yang buat saya dulu terdengar nggak masuk akal aja. Kayak misalnya nyokap yang bersikeras kalau tengah malam si baby ngoceh-ngoceh sendiri kita harus jawab karena kalau nggak maka "mahluk-mahluk lain" lah yang akan menjawab dia, atau mitos-mitos lainnya yang berhubungan dengan bayi dan ibu paska melahirkan. Yes, di rumah kami keponakan kami ini memang everyone's baby. So everyone in the family (not only his mother) memang punya equal responsibility to keep the baby healthy yet happy. What a baby. Uh?

Anyway, satu hal yang saya temukan lagi seputar baby's planet ini adalah saat minggu-minggu pertama saya belanja kebutuhan dia di supermarket. It's so damn expensive. Hampir dua bulan ini dia memang sudah tidak menyusu ASI eksklusif lagi, jadi memang nggak ada pilihan kecuali susu formula. Atas rekomendasi sang dokter, ia pun minum susu merek tertentu yang pada waktu itu satu kalengnya seharga Rp 165.000,- dan itu pun hanya untuk…tiga hari saja. So it cost us more than a million per month untuk susu doang.

Again, kata nyokap karena dia anak cowok memang menyusunya lebih kuat ketimbang bayi cewek. Knowing it's gonna be for the long run, nyokapnya dan nyokap saya pun mencoba mengakali dengan trial dan error beberapa merek susu dengan harga yang lebih terjangkau, ya nggak jauh beda juga sih harganya. Tapi at least less expensive dan lumayan pocket friendly buat keluarga abang saya yang namanya juga keluarga muda tentunya masih banyak harus struggle untuk kebutuhan pokok yang lain juga.

And you know what, being a high maintanance baby himself (ugh, i wonder from whom he inherited that gene from $@5%6^), dia malah langsung diare dan hiperaktif nggak jelas aja gitu pas susunya diganti. Oke, kami pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke susu merek semula. Ya kalau dianalogikan mungkin susah juga ya kalau dari biasa naik mercy kini tiba-tiba harus naik bajaj.

Dan tadi malam, saat giliran saya beli susu di supermarket, saya lumayan terkaget-kaget melihat harga susunya yang udah naik jadi Rp 183.000/kaleng. I was like, whattttt??? Yeah rite, sekarang saya memang sudah menjelma kayak ibu-ibu berdaster yang harga naik 500 perak aja ngomel dan kalau bisa nawar (well, now I can understand why juga sih finally…), but there must be an explanation kan kalau harga susu bisa naik. Di era facebook ini mana bisa bayi cuma dikasih air tajin, kan?

Lagi-lagi sekarang saya bisa paham kenapa waktu zaman kerusuhan '98 dulu banyak ibu-ibu muda yang lebih memilih menjarah susu formula sampai berkaleng-kaleng ketimbang benda-benda elektronik (walaupun kalau ditakar dosanya sama aja ya…). Ini tentu saja terlepas dari kebutuhan lain seperti baju yang trendi (baju siang, baju malam, baju ke gereja, baju jjs ke mal) yang umurnya rata-rata nggak lebih dari hitungan bulan karena proses pertumbuhan sang bayi itu sendiri, biaya imunisasi, biaya ke dokter dan suplemen lainnya.

Dalam perjalanan pulang tadi malam sambil nenteng kaleng-kaleng berat itu saya mikir, proses "merogoh kocek" ini tentu nggak akan berhenti sampai si bayi akhirnya menetas jadi "somebody" kelak. Dan untuk tujuan itu, tentu saja ada tuition fee yang harus dibayar, les ini-itu, ke dokter, uang buku, biaya senang-senang ala anak muda, dan lain sebagainya. Moral of the story dari cerita ini (selain misuh-misuh saya soal harga susu), ternyata sebagai anak kita tuh memang "high cost" banget buat orangtua kita, akan tetapi mereka toh tetap melakukannya dengan senang hati. Nggak masalah kalau harus menambah jam lembur, nyari sidejobs atau mengencangkan ikat pinggang dan pasang kacamata kuda saat ke mal, yang penting kebutuhan anak tercukupi.

Secondly, oh well…here's the thought; with this "expensive world" am not sure I can afford to have kids of my own yet.They're way too expensive. dulu aja mahal, apalagi sekarang? I went to private schools in order to get the best education (I know my dad worked his off that hard to pay my tuition), so I want my children to have at least the same living standard with me. And for that purpose, either I must have a very well paid job, or …marrying the rich guy in town. Which one's best? :)

A Happy Home

Membangun sebuah keluarga bagaikan membangun sebuah rumah. Harus ada fondasi yang kuat dan kokoh sebagai dasar, agar rumah tersebut dapat bertahan kuat di tengah cuaca yang tidak menentu dan angin kencang.

Begitu pula dalam sebuah keluarga. Anda harus membangung fondasi yang kuat untuk mencapai keluarga yang kokoh dan bahagia. Ada beberapa aspek untuk membangun fondasi tersebut yang bisa Anda perhatikan untuk keluarga Anda.

Komunikasi terbuka. Dalam sebuah keluarga, komunikasi sangatlah penting. Bagaimana anak akan merasa bahagia jika ia tidak bisa mengungkapkan apa yang ia ingin katakan kepada kedua orang tuanya? Komunikasi tersebut harus mulai dibangun sejak kecil. Baik anak dan pasangan harus bisa berkomunikasi dengan baik,sehingga dengan demikian setiap orang tidak menyimpan masalahnya masing-masing dan mencari penyelesaian di luar.

Saling menerima dan mendukung. Penyebab utama stres pada anak adalah tuntutan yang berlebihan dari orang tua. Orang tua yang tidak bisa menerima dan mendukung anak-anaknya, seperti apa adanya mereka, tidak akan bisa menciptakan kondisi keluarga yang bahagia. Begitu juga yang berlaku pada pasangan suami-istri.

Ada rasa aman dan nyaman. Di mana lagi anak-anak-anak dan pasangan akan mendapatkan rasa aman dan nyaman kalau bukan di rumah? Ini adalah hal yang penting, sebab jangan sampai mereka merasa tidak betah di rumah. Kenyamanan di rumah bisa diusahakan dengan berbagai cara. Mulai dari hubungan yang dekat dengan orang tua, komunikasi yang baik, masakan yang enak, kebebasan dalam berekspresi, dan sebagainya.

Bahagia dalam relasi sosial. Jangan remehkan hubungan dengan tetangga dan teman-teman sekitar. Karena relasi sosial membantu Anda dalam hubungan Anda dengan keluarga. Dengan menjalin relasi sosial, maka Anda akan lebih terbuka dan lebih bisa menerima dan mengatasi segala masalah dalam keluarga.

Sehat fisik. Bahagia rasanya jika kita semua tahu bahwa keluarga kita memiliki kesehatan yang baik. Kesehatan merupakan investasi yang tak ternilai harganya. Oleh karena itu, mulailah berikan makanan sehat dan gizi yang seimbang untuk keluarga Anda.

Sehat finansial. Uang memang bukan segalanya, tapi uang memiliki fungsi dan peranan yang cukup besar dalam keluarga. Tak bisa dipungkiri bahwa uang kurang lebih dapat memberikan kesejahteraan dalam keluarga, selama fungsinya tidak berlebihan. Satu hal yang harus Anda perhatikan, jangan sampai besar pasak daripada tiang!

Bahagia spiritual. Libatkan anggota keluarga Anda dalam kegiatan kerohanian bersama-sama. Misalnya saja beribadah bersama, atau berkumpul bersama ketika hari besar kerohanian.

Terlepas dari itu semua, definisi keluarga yang bahagia bukanlah keluarga yang tanpa masalah. Keluarga yang bahagia adalah keluarga yang bisa mengatasi masalah yang ada bersama-sama, dan tetap menjaga keutuhan keluarganya.